Jiwa dalam sudut pangdangan ajaran agama Islam merupakan satu unsur anatomi ruhani yang wajib diperhatikan, sebagaimana layaknya jasad sering kali kegiatan merawat serta melakukan pemulihan bagi kesehatan jiwa terabaikan. Bahkan bisa jadi seseorang hanya memeriksakan kondisi jiwa saat menganggap dirinya mendapat sebuah tekanan atau depresi. Hal semacam ini adalah sebuah kekeliruan. Untuk itulah al-Islam selalu memberikan gambaran dasar atas jiwa dengan berbagai cara.
Berbeda dengan pandangan terhadap jiwa yang ditawarkan Barat. Al-Islam memaparkan tentang jiwa bukan sekedar pembicaraan mengenai karakter dan perubahannya, akan tetapi lebih mendalam kewilayah ruh, qalb, akal, fikir dan pengaruhnya terhadap kinerja jasad. Tidak sedikit yang mengaitkan dengan kinerja jasad halus seperti adanya hubungan manusia dengan jin dan malaikat. Saat ini pengobatan terhadap orang sakit (pasien) harus dilakukan secara holistic dengan melalui empat aspek pengobatan yaitu: bio-psiko-sosio-religius. Dalam aspek religius dikembangkan metode psikorterapi religius, dengan tujuan menggali kekuatan batin (mental dan jiwa) pasien dengan tidak bermaksud mengubah keimanannya untuk membantu kesembuhan pasien. Upaya untuk membantu proses kesembuhan pasien ini dilakukan dengan terapi atau konseling religius. Dalam hal ini peranan rohani Islam di rumah sakit akan sangat membantu proses kesembuhan tersebut, yang pada akhirnya membantu terciptanya kondisi mental spiritual yang diharapkan yaitu Iman, taqwa dan berserah diri (Islam) kepada Allah. Sebagaimana pesan Allah SWT., dalam al-Qu’an surat Ali-Imran:102
• •
102. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam.
Ayat di atas memberikan pemahaman bahwa akhir dan kondisi jiwa seseorang adalah kondisi “Islam” (berserah diri kepada tugas Tuhan). Sedangkan mengawalinya adalah dengan penuh keimanan. Dua konsi ini mesti dipelihara dengan baik. Bilamana terdapat gangguan maka harus segera diatasi dengan sebaik-baiknya. Cara mengatasi inilah yang disebut terapi. Solusi-solusi yang diawarkan untuk melakukan penyembuhan atau pemulihan kondisi jiwa tidak sekedar dengan bentuk terapi fisik seperti memberikan obat penenang atau sejenisnya. Melainkan harus secara komprehensip antara penanganan fisik dengan pembiasaan dan riyadhah jiwa menuju pencapaian kondisi yang diharapkan Tuhan.
Perawat Rohani Islam salah satu model perawatan spiritual sebagai native healing untuk melengkapi standarisasi kesehatan yang dikeluarkan oleh Organisasi Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1982, yaitu sehat secara bio-psiko-sosio-spiritual. Perawatan Rohani Islam dengan menggunakan Psikoterapi Islam yang membantu sisi terapi spiritualitas atau psikis manusia dengan paradigma psikotepi religius yaitu dengan al-Quran, do’a, dzikir, shalat, puasa, mandi, wudhu,(hidroterapi), hikmah, tashawuf dan tarekat.
Dewasa ini keberadaan model Keperawatan Rohani Islam mendapat sambutan baik di kalangan rumah sakit, baik dalam negeri maupun luar negeri. Contoh di Amerika Serikat rumah sakit yang memadukan perawatan umum dengan perawatan spiritual religius Islam yang dalam hal ini menggunakan Tibbun Nabawi mendapat nilai komersial yang sangat tinggi, di Malasyia rumah sakit telah memadukan perawatan umum dengan perawatan rohani Islam yang menggunakan Tibbun Nabawi. Istilah Keperawatan Rohani Islam rumah sakit di Indonesia berbeda-beda, di rumah sakit wilayah Jawa Barat ada yang menggunakan nama WAROIS, ROHIS, BIMROHIS, dan di rumah sakit Padang menggunakan nama KONSERIS (Konseling Rahani Islam).